Welcome

Hi, welcome to my blog. Explore the site and enjoy your stay. Remember to comeback with your friends. Many thanks and God bless!

16 September 2011

Bali Day Lapse (video)



Bali, sebuah pulau di Indonesia yang memiliki daya tarik yang luar biasa dalam menarik para wisatawan, baik asing maupun lokal. Keindahan alam, budaya yang kental dan karya seni merupakan kekayaan yang dimiliki oleh pulau tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pulau Bali selalu meninggalkan kesan yang menyenangkan, ingatan-ingatan tentangnya pun senantiasa terlintas dalam pikiran bagaikan sebuah video timelapse.

Atas ide tentang "ingatan" tersebut, video pendek berjudul Bali Day Lapse diproduksi di Bali selama empat hari dengan teknik fotografi timelapse. Lokasi pengambilan gambar mencakup Kuta, Legian, Tanjung Benoa, Sanur, Pantai Dreamland, Pantai Padang-padang, Uluwatu, GWK Park, Tanah Lot, Bali, Tampaksiring (Pura Tirta Empul). Video tersebut tidak memiliki narasi, plot, aktor, bahkan juga tidak diberikan voice over. Semua gambar disusun dengan harmonis mengikuti melodi musik yang mengiringinya untuk menghasilkan efek dramatisasi pada visual.

Dalam video Bali Day Lapse, Arie Naftali Hawu Hede (produser) dan Febian Nurrahman Saktinegara (videografer) berkolaborasi dengan musisi asal Kanada bernama Fred Capo (Capo Production).

12 April 2011

Merangkum Jakarta (a Journey Through Jakarta)



Merangkum Jakarta
(a Journey Through Jakarta)
- documenter film, timelapse -

Video "Merangkum Jakarta (a Journey Through Jakarta)" merupakan hasil karya Febian Nurrahman Saktinegara, 21 tahun, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB angkatan 2008.

Secara singkat deskripsi mengenai video tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Video merupakan gabungan dari 4 bagian;
Part 1 - Dynamic [00:00 - 01:35], Jakarta yang terus bergerak, dan sebagai opening video.
Part 2 - Light and Building [01:38 - 09:47], perjalanan "Timelapse" mengarungi Jakarta, bercerita secara visual perkembangan Jakarta melalui pembangunan yang terjadi di tiap kawasan, sekaligus mengungkapkan gemerlap kota dengan lampu-lampunya yang tiada padam.
Part 3 - Playground [09:53 - 11:32], menyorot anak kecil di Jakarta sebagai objek, tetap bermain di lahan yang semakin menyempit.
Part 4 - Human [11:36 - 14:53], wajah-wajah yang saya temui di Jakarta, disorot setiap perjalanan secara apa adanya, wajah-wajah sibuk mengejar perkembangan Jakarta.

Berjudul "MeRANGKUM JAKARTA" = saya rangkum Jakarta.
Dengan bermodal Kamera DSLR+ lensa + tripod + semangat, Febian mencoba mengangkat tema Jakarta sebagai wujud kecintaannya terhadap kota Jakarta dan terinspirasi untuk mengangkat kota Jakarta di dunia komunitas pecinta video dan seni serta pada khalayak umum untuk memberikan gambaran dan sisi lengkap kota Jakarta dalam suatu rangkaian gambar dan gerak yang dipadu menjadi film yang bernilai estetis.

Video ini sudah di upload di situs youtube.com dan vimeo.com dengan judul yang sama semenjak akhir Februari 2011 dan mendapat apresiasi yang positif dilihat dari komentar yang diterima serta informasi disebarkan via dunia maya seperti forum kaskus.us, facebook dan twitter.

Secara resmi "Merangkum Jakarta" juga terpilih sebagai salah satu pengisi Short Film Screenings: Voice of Young Indonesian Filmmakers yang telah diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2011 di @america, The American Cultural Center, Pacific Place Mall.

Selamat menikmati.

cinematography by Febian Nurrahman Saktinegara
music by Two Steps From Hell and John Stanford
© Febian Nurrahman Saktinegara

17 December 2010

I will be here

Untuk seseorang yang terkasih:


Tomorrow morning if you wake up
And the sun does not appear
I will be here

If in the dark we lose sight of love
Hold my hand and have no fear
'Cause I will be here

I will be here
When you feel like being quiet
When you need to speak your mind
I will listen
And I will be here
When the laughter turns to crying
Through the winning and losing and trying
We'll be together
'Cause I will be here

Tomorrow morning if you wake up
And the future is unclear
I'll be here

Just as sure as seasons are made for change
Our lifetimes are made for years
I will be here

I will be here
You can cry on my shoulder
When the mirror tells us we're older
I will hold you

And I will be here
To watch you grow in beauty
And tell you all the things you are to me
I will be here

I will be true
To the promise I have made
To you and to the
One who gave you to me

I will be here

And just as sure as seasons are made for change
Our lifetimes are made for years
'Cause I will be here
We'll be together

'Cause I will be here



(I Will Be Here lyrics)

17 June 2009

Pekanbaru, Riau, 2006


Pekanbaru (PKU), pasti yang terbayang langsung kota minyak yang cukup ramai. Keramaian kota dapat terlihat dari pertama kali menjejakan kaki di bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, bandara ini tidak bisa dibilang besar, tetapi cukup padat lalu lintas penerbangannya. Kota yang merupakan ibukota Propinsi Riau ini cukup berkesan di hati saya, betapa tidak periode 2006- awal 2007 saya cukup akrab walau dijadikan tempat sekedar untuk melepas lelah, minimal sebulan sekali setelah menempuh perjalanan 3 jam dari tempat kerja dahulu (daerah Kuantan)
Tidak banyak tempat wisata ataupun mall, tapi untuk tempat berbelanja cinderamata khas melayu yang cukup lengkap kita bisa mendapatinya di Pasar Bawah. Tidak sulit berjalan-jalan sendiri di kota ini, karena cukup tersedia angkutan umum untuk membawa kita ke daerah-daerah yang di inginkan. Angkotnya tetap dengan ciri khas angkot sumatera yang unik, tidak lupa di lengkapi dengan sound system yang menggelegar lagu dangdut/house music yang kata pengemudinya adalah untuk kenyamanan penumpang (mantab dan cukup berisik!).
Untuk masalah penginapan juga tidak susah untuk mendapatkannya, dimulai dari hotel kelas berbintang, sampai kategori wisma. Nah yang terakhir ini merupakan tempat favorit penulis, mengingat budget yang terbatas, dahulu paling sering menginap di Wisma 45 dan Wisma 81, tempatnya lumayan strategis.
Kesan yang di dapat setelah mengenal kota PKU ialah bersih, panas, untuk urusan perut tidak perlu dikhawatirkan; tempat makannya lumayan memuaskan, dan berhubung cukup banyak memiliki rekan-rekan disana, jadinya rindu sekali untuk dapat berkunjung kembali.
Sayang seribu sayang, saya kehilangan foto-foto yang dapat memvisualisasikan keadaan kota sebagaimana yang saya ceritakan tadi dan hanya menyisakan foto di samping atas yang di ambil di Tugu Khatulistiwa (0 derajat Lintang) daerah Lipat Kain yang dapat dicapai kurang lebih 1 jam ke arah selatan dari Kota Pekanbaru dengan menumpang kendaraan umum (L-300) Pekanbaru – Teluk Kuantan.
Oh iya jika anda juga ingin mengunjungi Propinsi Riau sekedar untuk berwisata, saya sarankan untuk mengunjunginya sekitar bulan Agustus, bukan di Kota PKU-nya, tetapi di daerah Teluk Kuantan, yang merupakan ibukota Kabupaten Kuantan sengingi, ada perayaan yang cukup meriah yaitu Lomba Pacu Jalur, sejenis lomba perahu dayung berkelompok di Sungai Kuantan, yang merupakan acara tahunan yang di adakan Pemda setempat yang menjadi salah satu andalan obyek pariwisata daerah sana. Saya sarankan anda untuk dapat melihatnya, sebagaimana saya pernah sangat menikmati acara ini di tahun 2006.

07 June 2009

Karang Sambung 2009


Sekian kali ke Karang Sambung, dan sekian kali juga cerita yang baru bergulir. Memang benar seperti yang dikatakan sang dosen, bahwa setiap kali beliau berkunjung kesana maka akan selalu saja ada ilmu baru yang di dapat. Tapi untuk saya ilmu + kesan baru lagi. Meskipun bagi kebanyakan perjalanan kurang lebih 5 hari itu terasa melelahkan tetapi tidak demikian, perjalanan ke Karang Sambung selalu saja menyenangkan. Perasaan yang sama seperti pertama kali di tahun 2004 hanya saja dengan orang-orang yang berbeda tetapi tetap selalu membahagiakan.
Kebersamaan dengan rekan-rekan dan pengetahuan, merupakan bagian terpenting yang ingin dicapai setiap kali kuliah lapangan Karang Sambung dan itu selalu didapatkan. Kali ini pun demikian, dan semoga ini perjalanan kemarin tidak menjadi yang terakhir di dalam belajar memahami alam.